Saturday, July 16, 2016

Saving Savin Chapter 2 'Ekadana Highschool'

Chapter 2 'Ekadana Highschool'



Sebelumnya... Chapter 1 'Laverne'

        Musim panas, akhir bulan Juni, Bandung
Tiga tahun sudah Candra meninggalkan Swedia, dan tinggal di Indonesia, tanah airnya. Selama tiga tahun pula dia duduk di bangku SMP, masa-masa yang dimanfaatkannya untuk beradaptasi dengan suasana dan udara tropis negaranya. Meski di Bandung cukup dingin namun tidak seberapa di banding dinginnya semenanjung skandinavia tempat tinggalnya dulu.
      Hari ini adalah pertama kalinya Canfra menginjakkan kakinya di halaman depan SMA Ekadana. Laki-laki yang tahun ini genap berumur 15 tahun itu tumbuh cukup tinggi dan tegap tanpa meninggalkan wajah tampannya yang innocent dan baby face.
     "Awas!" seru seorang perempuan pada Candra. Seruan yang terlambat karena  tak mamampu menghalangi kaleng minuman yang melayang cukup kencang ke kepala Candra.
      "Maaf!" katanya merasa bersalah. "Aku kira bisa tepat sasaran..." tambahnya sambil menunjuk ke tempat sampah di samping Candra.
    "Never mind..." kata Candra datar, tangannya masih mengusap kepalanya yang berambut hitam pendek yang sebelumnya tertata rapi.
    "Siswa baru juga?" tanyaperempuan itu menghampiri Candra dengan langkahnya yang kecil.
    Candra mengangguk pelan, mengamati hawa yang berbicara dengannya itu terlebih pada rambut dan garis wajah yang mengingatkannya pada Laverne. Mungkin jika rambut perempuan itu berwarna pirang dan bukan hitam pekat, serta lensa matanya berwarna biru dan bukan hitam jernih mungkin Candra akan menganggap perempuan di depannya itu sebagai Laverne versi remaja.
     "Sebentar lagi bel masuk. Katanya masa orientasi di sini cukup menegangkan..."
Belum sempat Candra menanggapi perkataannya, perempuan itu kembali berbicara. "Oh ya.. namaku Lynesia Margenta. Biasa dipanggil Lynes," kata Lynes mengulurkan tangannya.
     "Candra Andriawan," kata Candra menjabat tangan Lynes.

Friday, July 15, 2016

Saving Savin Chapter 1 'Laverne'

Saving Savin Chapter 1 'Laverne'


"Go away!!" teriak Candra berlari menerobos kerumunan orang di jalanan pinggir taman kota Stockholm. Jalanan yang licin bersalju agak menyulitkannya untuk mengontrol keseimbangan. Dia sedang berusaha kabur dari seseorang. Apabila aksi runaway-nya kaki ini dimasukkan dalam hitungan, mungkin ini yang ke empat kalinya dia berusaha menghindar dari orang yang sama. Sebelumnya dia pernah sembunyi di toilet laki-laki berjam-jam dan dua kali di loker sekolah untuk bersembunyi. Dari kesemuanya, aksinya inilah yang paling parah. Tentu saja, karena hampir semua orang di jalanan memandangnya curiga, seolah-olah dia telah melakukan hal yang tercela.

"Candra!" teriak seorang perempuan berambut panjang, pirang, berponi, terengah-engah, sangat kewalahan mengejar Candra, tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa dia akan berhenti mengejar cowok berkewarganegaraan Indonesia itu, meskipun air matanya sudah membanjiri wajahnya yang putih kemerahan. "Stop!" tegasnya bukan tanpa malu pada orang-orang di sekitar yang melihatnya iba.

Setelah teriakan itu menguap, Candra berhenti berlari, bukan karena kehendaknya, melainkan karena seseorang yang tidak dikenal. Dengan lengannya yang besar—entah apa karena jaketnya yang tebal atau memang lengannya yang sebegitu kekarnya—orang itu mencengkram pundak Candra.
"Hei, Nak... Kau orang Indonesia kan? Tidak sepantasnya kau membiarkan temanmu itu mengejarmu... Apalagi dia perempuan..." kata pria itu.

Candra menatap pria di hadapannya itu, umurnya tidak jauh beda dengan ayahnya alias empat kali lipat umur Candra yang kini berusia dua belas tahun itu. Dan sangat jelas dari wajah, warna kulit, dan bahasa yang digunakan, pria itu juga orang Indonesia.

"Bapak tidak mengerti..." kata Candra ingin membela diri. "Dia..."

"Kalian duduklah di bangku kosong itu dan bicarakan baik-baik," kata pria itu menolak mendengar pembelaan Candra, lalu berjalan pergi.

Candra tidak mengerti kenapa lidah dan seluruh alat gerak yang menempel di badannya terasa kelu, hingga perempuan yang sedari tadi mengejarnya kini berada di hadapannya. Dilihatnya perempuan itu dengan pasrah, mungkin memang seharusnya dia tidak lari darinya.

"Kumohon, jangan lari lagi!" katanya dengan bahasa Indonesia yang begitu kaku. Lelehan air matanya baru berhenti mengalir ketika matanya bisa menangkap seluruh sosok Candra yang akhirnya mau untuk menatapnya.

"Laverne..." Candra tercengang mendengar perempuan bernama Laverne itu mengucapkan sebuah kalimat dalam bahasa Indonesia.

"Kamu dengar? Aku belajar Bahasa Indonesia untuk kamu..." Laverne mengusap air mata yang tersisa di matanya. Mendung di wajahnya agak berkurang, dan dalam hitungan detik sebuah senyuman merekah di bibirnya yang berwarna merah jambu, senyuman lega mendalam yang berbalas keterkejutan dan keheranan dari lawan bicaranya.

"Aku tidak mengerti..."
"Apa salah?" tanya Laverne menunduk, memandang ke arah sepatu boot-nya yang kotor oleh salju bercampur tanah basah, terlihat kecewa.
"Tidak, ucapanmu benar. Aku hanya kaget dan heran... Aku benar-benar tidak menduganya..." ujar Candra.

Laverne menengadah, agak mengernyitkan dahinya, berpikir keras mengartikan kata-kata Candra yang meluncur begitu cepat ke dalam bahasa yang jauh lebih dia pahami.

"Apakah aku berkata terlalu cepat?" tanya Candra begitu melihat ekspresi wajah Laverne.
"Aku hanya...tidak mengerti apa itu...ka-jet..."
"Kaget, sama artinya dengan terkejut... Kalau dalam Bahasa Inggris berarti Surprise... " kata Candra tiba-tiba merasa dirinya sungguh jahat karena selalu menghindar dari Laverne. Sikapnya terhadap Laverne akhir-akhir ini sungguh tolol dan mencerminkan seorang pengecut.

Wajah kedua remaja itu kini makin memerah, karena udara yang semakin dingin seiring dengan semakin gelapnya langit yang tak bermentari di awal bulan January.

"Emm... Aku tahu kamu terkejut...aku...menyatakan perasaan aku kepada kamu waktu kemarin. Aku tahu itu pertama kali...untuk kamu. Aku hanya ingin kamu tau sebelum kamu pergi ke Indonesia," ucap Laverne terdengar aneh di telinga Candra. Namun, dari sorot mata perempuan itu mengatakan lebih banyak dari yang terucap. "Jaga diri kamu baik-baik.." tambah Laverne tersenyum manis. Senyuman manis yang terasa pahit. 

"Thank you, Laverne..." Hanya kalimat itu yang Candra mampu ucapkan, meski di kepalanya terdapat ribuan kata yang berebut tempat untuk menerobos pintu mulutnya.

"Jika kita lagi bertemu, I hope...bertemu Candra yang tidak lari jika melihatku," ungkap Laverne bersikap jauh lebih dewasa dibandingkan kebanyakan perempuan seusianya. Setelah beberapa detik memandang Candra sepuasnya, perempuan itu berbalik pelan lalu berjalan secepat dia bisa menjauh dari Candra.

Candra masih berdiri di tempatnya ketika titik punggung Laverne menghilang di ujung jalan yang menikung, tak lama setelah itu dia menoleh ke arah bangku yang ditunjzuk oleh orang tua tak dikenal tadi. Dia membayangkan bisa duduk di tempat itu dengan Laverne di sebelahnya, bercakap-cakap tentang warna favorit, acara favorit, hobi, keluarga, dan banyak hal...

Bersambung.... Chapter 2 'Ekadana High School'